Haedar Nashir: Intelektual dan Pemimpin Muhammadiyah yang Konsisten Mengembangkan Islam Berkemajuan

Penulis: Web Master | Diterbitkan pada: 01 Jun 2026


arsip klikmu

Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si. merupakan salah satu tokoh penting dalam perjalanan Muhammadiyah kontemporer. Lahir di Bandung pada 25 Februari 1958, Haedar dikenal sebagai akademisi, intelektual Muslim, dan pemimpin Persyarikatan Muhammadiyah yang aktif mengembangkan gagasan Islam Berkemajuan. Saat ini, Haedar Nashir dipercaya sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2022–2027.

Perjalanan intelektual Haedar Nashir berawal dari pendidikan dasar dan pendidikan pesantren di Jawa Barat. Ia pernah menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Ciparay, Pondok Pesantren Cintawana Tasikmalaya, dan SMA Negeri 10 Bandung. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan tinggi di Yogyakarta dan meraih gelar sarjana dari Akademi Pembangunan Masyarakat Desa (APMD) Yogyakarta. Pendidikan akademiknya kemudian dilanjutkan pada bidang sosiologi di Universitas Gadjah Mada (UGM), hingga memperoleh gelar magister pada 1998 dan doktor pada 2007.

Keterlibatan Haedar dalam Muhammadiyah telah berlangsung sejak masa muda. Ia aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah dan kemudian dipercaya menjadi Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah periode 1983–1986. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter kepemimpinannya. Dalam sebuah kesempatan, Haedar menyebut IPM sebagai salah satu “sekolah kehidupan” yang memberikan pengalaman dalam mengelola gerakan dan memperjuangkan kemaslahatan sosial.

Kariernya di Muhammadiyah terus berkembang. Haedar pernah menjadi Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2000–2005, Ketua PP Muhammadiyah periode 2005–2010 dan 2010–2015, kemudian dipercaya sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2015–2022. Dalam Muktamar ke-48 Muhammadiyah di Surakarta, ia kembali mendapatkan amanah sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah untuk periode 2022–2027.

Sebagai akademisi, Haedar Nashir merupakan Guru Besar Sosiologi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Ia juga dikenal produktif menulis mengenai Muhammadiyah, Islam, masyarakat, kebangsaan, dan kehidupan sosial. Salah satu karya akademiknya yang penting adalah Islam Syariat: Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia, yang berasal dari disertasi doktoralnya di UGM.

Pemikiran Haedar banyak memberikan perhatian pada pengembangan Islam Berkemajuan, yaitu pemahaman Islam yang tidak berhenti pada aspek ritual, tetapi diwujudkan dalam kehidupan nyata melalui pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, amal sosial, kebangsaan, dan pembangunan peradaban. Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan pentingnya memadukan kekuatan iman, ilmu, akhlak, dan kemajuan kehidupan masyarakat.

Haedar juga memiliki peran penting dalam perumusan berbagai gagasan strategis Muhammadiyah. Ia terlibat dalam penyusunan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM), Dakwah Kultural, Khittah Berbangsa dan Bernegara, Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua, serta gagasan Pancasila sebagai Dar al-Ahdi wa al-Syahadah. Keterlibatannya dalam berbagai rumusan tersebut memperlihatkan posisinya sebagai salah satu intelektual yang turut membentuk arah pemikiran Muhammadiyah.

Dalam pandangannya, intelektualisme tidak semata-mata diukur dari gelar akademik. Ilmu harus memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat. Haedar menekankan pentingnya sosok ulil albab, yaitu manusia yang memadukan kekuatan berpikir dan kekuatan spiritual sehingga mampu memahami persoalan secara mendalam dan menghadirkan solusi bagi kehidupan.

Di tengah perubahan sosial dan perkembangan zaman, Haedar Nashir terus mendorong Muhammadiyah untuk menjadi gerakan yang mencerahkan, moderat, berilmu, dan berorientasi pada kemajuan. Bagi Haedar, kekuatan Muhammadiyah bukan hanya terletak pada besarnya organisasi, tetapi pada kemampuan warga Persyarikatan untuk menghadirkan nilai-nilai Islam dalam bentuk amal nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dengan perjalanan panjang sebagai kader, akademisi, intelektual, dan pemimpin Persyarikatan, Haedar Nashir menjadi salah satu figur yang merepresentasikan perpaduan antara keislaman, keilmuan, kebangsaan, dan gerakan sosial. Gagasannya tentang Islam Berkemajuan terus menjadi bagian penting dalam membaca arah Muhammadiyah dan tantangan umat Islam di tengah perubahan zaman.